Sabtu, 25 Juni 2011

Pengantar Ilmu Pendidikan ~ Paper UAS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Sebelum membahas tentang makalah ini yang berjudul ”Pengaruh Bullying dalam Dunia Pendidikan”, alangkah lebih baik kita mengetahui tentang pengertian dari Pendidikan itu sendiri. Menurut Wikipedia Indonesia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Ada berbagai jenis atau macam jalur pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia. Diantaranya Pendidikan Formal, Pendidikan Informal, dan Pendidikan Non-Formal [1].
Pendidikan Formal yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan memiliki jenjang atau tingkatan yang jelas (resmi) mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.. Contohnya sekolah-sekolah  umum seperti SD,SMP,SMA, dan sebagainya. Pendidikan Informal yaitu pendidikan yang diberikan oleh keluarga (orangtua) kepada anaknya. Pendidikan Informal dapat berupa kasih sayang, tata cara sikap kesopanan yang baik, cara makan, dan lain-lain. Sedangkan Pendidikan Non-Formal yaitu pendidikan yang tidak diselenggarakan oleh pemerintah dan tidak berjenjang yang bertujuan untuk menambah pengetahuan atau keahlian tertentu. Contohnya seperti kursus Bahasa Inggris, les privat, les musik, dan lain-lain.
Masih banyak berbagai jenis atau macam pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia seperti pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan akademik, pendidikan profesi, pendidikan vokasi, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus, dan lain sebagainya.

1.2       Identifikasi Masalah

Dalam proses pendidikan yang dilaksanakan atau diterapkan di Negara kita ini masih banyak yang belum menanamkan sikap peri-kemanusiaan kepada sesama. Akibatnya, banyak para pemeran pendidikan seperti pendidik dan peserta didik yang berperilaku tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka lakukan atau beri contoh kepada yang lain. Untuk itu dalam makalah ini penulis akan membahas lebih lanjut tentang bullying yang terjadi dalam dunia pendidikan. Contohnya seperti insiden yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dalam insiden tersebut, seorang praja tewas karena dianiaya oleh para seniornya dalam rangka pemberian hukuman –atau dalam istilah mereka sendiri, ‘pembinaan’ atau ‘koreksi’– atas kesalahan yang dilakukan sang praja.

1.3       Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup permasalahan yang dikaji, penulis membatasi masalah dengan membahas bullying yang terjadi di dalam dunia pendidikan yang ada. Seperti Perbuatan-perbuatan apa saja yang dikategorikan sebagai bullying dan mengapa pelaku melakukan bullying. Serta kita dapat melihat betapa buruknya dampak yang dihasilkan dari tindakan tesebut dan sangat tidak layak untuk dicontoh oleh siapapun.

1.4       Rumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi masalah dan Pembatasan masalah yang dikaji tersebut, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
-          Apa sebenarnya bullying?
-          Perbuatan apa saja yang dikategorikan sebagai bullying?
-          Mengapa pelaku melakukan bullying?
-          Apa dampaknya bagi korban?

1.5       Tujuan Penulisan
Tujuan untuk Pendidik(Guru, Dosen):
-          Memberikan pengetahuan tentang cara pergaulan diantara anak didiknya.
-          Memberikan pengetahuan tentang  dampak  dari adanya bullying dalam pendidikan.
Tujuan untuk Anak didik (Siswa, Mahasiswa) :
-          Memberikan pengetahuan tentang bullying yang ada di dunia pendidikan.
-          Mengubah pola sikap anak didik/mahasiswa yang melakukan bullying.
-          Memberitahukan tentang dampak yang terjadi akibat bullying dalam pendidikan.
-          Meminimalkan terjadinya bullying diantara siswa/mahasiswa.
Tujuan  untuk Masyarakat Luas   :
-          Dapat menambah pengetahuan tentang dampak dari bullying yang terjadi dalam pendidikan.
-          Mengubah pola sikap dalam pendidikan ke  arah yang lebih baik. 



BAB II
KERANGKA TEORITIS
Landasan Teori
Bullying adalah situasi dimana terjadinya penyalahgunakaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya berarti kuat dalam ukuran fisik, tetapi juga kuat secara mental. Dalam hal ini sang korban bullying tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara mental atau fisik.
Istilah bullying diilhami dari kata bull (bahasa Inggris) yang berarti “banteng” yang suka menanduk. Pihak pelaku bullying biasa disebut bully.
Bullying merupakan bagian dari kegagalan membangun kecerdasan yang komprehensif.[2]
Intimidasi, penganiayaan, dan kekerasan lainnya adalah tindakan agresi. Bullying adalah bagian dari tindakan agresi yang dilakukan berulang kali oleh seseorang/anak yang lebih kuat/ anak yang lebih lemah secara psikis atau fisik.
Menurut Ken Rigby, “Sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.
Pendidikan merupakan salah satu faktor paling penting yang dapat digunakan untuk  merealisasikan bakat-bakat yang dibawa manusia sejak lahir sehingga manusia mempunyai keterampilan (profesi) yang dapat digunakan untuk menghidupi dirinya. Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi dilahirkan seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membacakan kepada bayi didalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum lahir.
Bagi sebagian orang pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti dari pada pendidikan formal. Seperti yang dikatakan Mark Twain ” Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya ”. Anggota keluarga memiliki peran pengajaran yang penting dan mendalam dalm proses pendidikan walaupun pendidikan yang dialami dikeluarga berjalan secara tidak resmi (informal).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentang pengertian pendidikan pada bab pendahuluan diatas, namun disini penulis mencoba menyimpulkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia agar tercapai tujuan hidupnya dengan mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik. Untuk itu sangat diperlukannya proses pendidikan dalam hidup ini agar semuanya dapat sesuai dengan tujuan.
Sifat Pendidikan
Berdasarkan definisi pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan dapat bersifat antara lain :
-          Terbuka, artinya memerlukan bantuan ilmu-ilmu pendidikan yang lain dalam mencapai tujuannya (psikologis, antropologis, sosial, kebudayaan, ekonomi, filsafat, politik, ideology,dll)
-          Teoritis, artinya mengkaji bidang keilmuannya secara luas (profesional) sampai pada hal yang terkecil.
-          Praktis/terapan, artinya teori-teori yang dikaji digunakan untuk melancarkan proses pendidikan.
-          Normatif, artinya memiliki ciri-ciri dasar  yang mendukung aturan-aturan dasar yang sudah bak. Contoh : melestarikan budaya bangsa melalui pembinaan budaya-budaya daerah yang bersifat positif.
Situasi Pendidikan
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk selalu berkumpul dengan orang lain. Saat berkumpul dengan orang lain itulah kemudian timbul berbagai keinginan untuk meniru, bertanya, dan ingin tahu, kemudian kondisi ini merubah hubungan sosial biasa ke arah hubungan pendidikan (yang membedakan hubungan siswa anak didik dengan pendidik).
Ciri anak didik (peserta didik) antara lain adalah :
-            Pribadi yang ingin berkembang, memerlukan bantuan, arahan, dan contoh dari orang lain.
-            Pribadi yang unik (berbeda satu sama lain, tidak sama).
Dalam aktivitas pendidikan terdapat faktor yang penting yanf harus dimiliki oleh sorang pendidik yaitu kewibawaan. Kewibawaan adalah faktor diri yang dapat menimbulkan rasa segan dan percaya sehingga siswa patuh mengikuti anjuran guru karena adanya rasa hormat dan perasaan senang. Pendidik dapat digololngkan menjadi :
-    Pendidik Kodrat/ Non Kodrat seperti : orangtua yang secara alamiah harus   bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya.
-    Pendidik Jabatan/ formal : ialah guru, pelatih, pembimbing yang karena jabatannya harus bertanggung jawab terhadap proses pendidikan siswanya.
                 Syarat minimal situasi pendidikan adalah adanya guru dan siswa ( Pendidik dan anak didik). Hubungan guru dan siswa dalam  konteks biasa disebut pergaulan. Situasi pergaulan segera dapat berubah menjadi situasi pendidikan bila muncul adanya keinginan (secara sadar) untuk merubah siswa dari hal-hal negatif menjadi positif. Contoh : Dalam Studi tour guru dan siswa sering terlihat berkomunkasi secara akrab (situasi pergaulan), tetapi tiba-tina guru melihat hal-hal yang kurang baik dan bila guru tersebut mencegahnya maka disinilah terjadi situasi pendidikan.
Landasan Pendidikan
Pemahaman tentang landasan pendidikan adalah sangat penting untuk digunakan dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang tepat dalam pendidikan. Wawasan pendidikan yang tepat akan dapat member peluan yang lebih besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan dan akan memberikan perspektif yang lebih luas terhadap pendidikan baik dalam aspek konseptual maupun operasional. Hal ini penting karena hasil pendidikan tidak segera nampak sehingga setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pendidikan harus diujikan kebenarannya.
Berikut macam-macam landasan dalam pendidikan :
1.    Landasan Filosofis Pendidikan        : Mengkaji masalah sekitar pendidikan dari sudut pandang filsafat.
2.    Landasan Sosiologis              : Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu (Pendidik dan Anak didik). Oleh karena itu kegiatan pendidikan dapat berlangsung baik dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu kajian sosiologis tentang pendidikan mencakup semua jalur pendidikan tersebut.
3.    Landasan Kultural                   : Pendidikan selsu terkait dengan manusia, sedangkan setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung budaya. Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timba balik.
4.    Landasan Psikologis              : Pemahaman peserta didik merupakan kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam pendidikan.

Komponen-komponen dalam Pendidikan
Dalam proses pendidikan tentunya semua tidak terlepas dan harus ada faktor serta komponen dalam pendidikan. Ada beberapa faktor dalam pendidikan diantaranya :
-     Anak didik / peserta didik        : Anak didik merupakan individu yang sedang berkembang. Yang dimaksud berkembang disini adalah perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara wajar, baik ditunjukkan kepada diri sendiri, maupun ke arah penyesuaian dengan lingkungan. Sejak manusia lahir, bahkan sejak masih berada di dalam kandungan  ia berada dalam proses perkembangan.
-     Pendidik                           : Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dewasa dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, karena setiap orang dewasa mempunyai ciri adanya rasa tanggung jawab termasuk tanggung jawab mendidik anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan.
-  Alat Pendidikan              :  Menurut Langeveld, alat pendidikan ialah suatu perbuatan atau situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Macam-macam alat pendidikan dapat ditinjau dari segi wujudnya, yaitu berupa :
1.      Perbuatan Pendidik (sering disebut software) mencakup nasehat, teladan, larangan, perintah, pujian, teguran, ancaman, hukuman ;
2.      Benda-benda sebagai alat bantu (sering disebut hardware) mencakup meja-kursi belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, buku, peta, dan lainnya.[3]


Sebuah alat pendidikan yang akan digunakan, dikatakan baik bedasarkan pertimbangan berikut :
a.    Alat tersebut sesuai atau cocok dalam pencapaian tujuan pendidikan.
b.    Pendidik memahami peranan alat pendidikan tersebut dan cakap menggunakannya.
c.    Anak didik mampu menerima penggunaan alat pendidikan itu sesuai dengan keadaan dirinya (jenis kelamin, bakat, usia, sifat, kemampuan).
d.    Alat pendidikan itu dapat membawa hasil yang diharapkan dan tidak menimbulkan akibat sampingan yang merugikan anak didik.

Penggunaan alat pendidikan berupa tindakan pendidikan nampak dalam bentuk tindakan yang bersumber pada kewibawaan pendidik yaitu :
a.    Kasih sayang
b.    Pemberian teladan
c.    Saran
d.    Membiasakan
e.    Pujian/ hadiah
f.     Peringatan/ teguran
g.    Larangan/ teguran
h.    Hukuman
i.      Pengawasan
j.      Ketertiban





BAB III
PEMBAHASAN

Ada banyak definisi mengenai bullying, terutama yang terjadi dalam konteks lain (tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual). Namun di sini penulis akan membatasi konteksnya dalam school bullying. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Ada beberapa jenis dan wujud bullying, tapi secara umum, praktik-praktik bullying dapat dikelompokkan ketiga kategori: bullying fisik, bullying non fisik dan bullying mental/psikologis.
-          Bullying fisik
Ini termasuk jenis bullying yang kasat mata. Siapapun bias melihatnya karena sentuhan fisik antara pelaku bullying dengan korbannya. Contoh-contoh bullying fisik antara lain adalah
o   Menampar
o   Menimpuk
o   Menginjak kaki
o   Menjegal
o   Meludahi
o   Memalak
o   Melempar dengan barang
o   Menghukum dengan berlari keliling lapangan
o   Menghukum dengan cara push up
o   Menolak
o   Mengunci seseorang dalam ruangan, dll


-          Bullying non-fisik/verbal
Jenis bullying yang juga bisa terdeteksi, karena bias tertangkap indera pendengaran kita. Contoh-contoh bullying verbal / non-fisik
·         Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
·         Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
·         Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

-          Bullying mental/psikolois
Ini jenis bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap mata atau telinga kita jika tidak cukup awas mendektesinya. Praktik bullying ini terjadi diam-diam dan diluar radar pemantauan kita. Contoh-contohnya adalah
o   Memandang sinis
o   Memandang penuh ancaman
o   Mempermalukan didepan umum
o   Mendiamkan
o   Mengucilkan
o   Memandang yang rendah
o   Mencibir
o   Memelototi, dll
Dari beberapa penelitian sebelumnya, juga ditemukan perbedaan umur dan gender yang dapat mempengaruhi perilaku bullying. Pada usia 15 tahun, anak laki-laki ditemukan lebih cenderung mem-bully dengan kontak fisik langsung, sementara anak perempuan lebih cenderung mem-bully dengan perilaku tidak langsung. Namun tidak ditemukan perbedaan dalam kecenderungan melakukan bullying verbal langsung. Pada usia 18 tahun, kecenderungan anak laki-laki mem-bully dengan kontak fisik menurun tajam, dan kecenderungannya untuk menggunakan perilaku verbal langsung dan perilaku tidak langsung meningkat, meskipun anak perempuan masih tetap lebih tinggi kecenderungannya dalam hal ini.
Patut dicatat bahwa ini adalah hasil penelitian di luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Riauskina dkk. menemukan dalam penelitiannya pada 2 SMA di Jakarta bahwa kecenderungan untuk melakukan kontak fisik langsung masih terlihat pada anak laki-laki di usia 18 tahun.

Mengapa Melakukan Bullying?
Seperti yang telah terjadi pada kasus IPDN dan sebagian kasus-kasus lainnya, bullying adalah sebuah siklus, dalam artian pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelumnya. Ketika menjadi korban, mereka membentuk skema kognitif yang salah bahwa bullying bisa ’dibenarkan’ meskipun mereka merasakan dampak negatifnya sebagai korban. Hal ini tampak dalam sebuah potongan wawancara pra-survei:
Tanya: …kalo nanti kalo kalian udah kelas dua gitu, mungkin ga jadi kaya mereka sekarang…?
Jawab: …tergantung si, tergantung ade kelasnya…kalo ade kelasnya nyolot ya gue marahin…
Mengapa seorang korban bisa kemudian menerima, bahkan menyetujui perspektif pelaku yang pernah merugikannya? Salah satu alasannya dapat diurai dari hasil survei: sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. Dalam skema kognitif korban yang diteliti oleh Riauskina dkk., korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena
  • Tradisi
  • Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
  • Ingin menunjukkan kekuasaan
  • Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
  • Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
  • Iri hati (menurut korban perempuan)
Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena
  • Penampilan menyolok
  • Tidak berperilaku dengan sesuai
  • Perilaku dianggap tidak sopan
  • Tradisi

Apa Dampak dari Bullying?
Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.
Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Dari 2 SMA yang diteliti Riauskina dkk., hal-hal ini juga dialami korban, seperti merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri!
Dari informasi di atas, kita dapat melihat bagaimana perilaku bullying sebenarnya sudah sangat meluas di dunia pendidikan kita tanpa terlalu kita sadari bentuk dan akibatnya.

Dampak Perilaku Bullying dalam Perspektif Perkembangan Anak
Tidak harus menunggu sampai seorang anak menjadi anggota institut sekolah tinggi terkemuka untuk bisa melakukan bullying; tanda-tandanya sudah dapat diamati pada anak-anak yang bahkan belum bersekolah sekalipun. Perilaku menggigit, memukul, mendorong, menjatuhkan, atau melemparkan barang-barang pada teman bermain atau orang lain adalah beberapa tanda-tanda kecenderungan agresif yang, bila tidak ditangani, akan mengarah pada perilaku bullying dan tindakan kekerasan lainnya. Berlawanan dengan pandangan umum pula, bullying bukanlah aktivitas normal pada anak-anak yang akan ’berlalu dengan sendirinya seiring mereka dewasa.’ Kini telah diketahui bahwa perilaku bullying yang tidak ditangani dengan baik pada masa anak-anak justru dapat menyebabkan gangguan perilaku yang lebih serius di masa remaja dan dewasa, seperti:
  • Pelecehan seksual
  • Kenakalan remaja
  • Keterlibatan dalam geng kriminal
  • Kekerasan terhadap pacar/teman kencan
  • Pelecehan atau bullying di tempat kerja
  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Pelecehan/kekerasan terhadap anak
  • Kekerasan terhadap orang tua sendiri

Faktor dan Karakteristik yang Terkait dengan Perilaku Bullying
Keluarga adalah salah satu factor yang menjadikan anak pelaku bullying.. Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah: orangtua yang kerap menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh stres, agresi dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orangtua mereka dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa ”mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan berperilaku agresif dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang.” Dari sini, anak tidak hanya mengembangkan perilaku bullying, melainkan juga sikap dan kepercayaan yang lebih dalam lagi.
Selain keluarga, ada beberapa karakteristik lain yang terkait dengan perilaku bullying. Patut dicatat bahwa kita tidak dapat serta-merta ’menghakimi’ anak sebagai pelaku hanya karena ia memiliki beberapa karakteristik tertentu. Di bawah ini adalah karakteristik yang pada umumnya ditemui pada pelaku bullying, sehingga anak yang belum melakukan bullying, namun memiliki beberapa karakteristik berikut, dapat segera dikenali dan diberi pengertian yang benar sebelum ia melakukannya.
  • Cenderung hiperaktif, disruptive, impulsif, dan overactive
  • Memiliki temperamen yang sulit dan masalah pada atensi/konsentrasi
  • Pada umumnya juga agresif terhadap guru, orangtua, saudara, dan orang lain
  • Gampang terprovokasi oleh situasi yang mengundang agresi
  • Memiliki sikap bahwa agresi adalah sesuatu yang positif
  • Pada anak laki-laki, cenderung memiliki fisik yang lebih kuat daripada teman sebayanya
  • Pada anak perempuan, cenderung memiliki fisik yang lebih lemah daripada teman sebayanya
  • Berteman dengan anak-anak yang juga memiliki kecenderungan agresif
  • Kurang memiliki empati terhadap korbannya dan tidak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya
  • Biasanya adalah anak yang paling insecure, tidak disukai oleh teman-temannya, dan paling buruk prestasinya di sekolah hingga sering terancam drop out.
  • Cenderung sulit menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan dalam hidup





BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari berbagai karakteristik yang dimiliki pelaku di atas, dapat kita lihat bagaimana para pelaku tersebut sebenarnya juga adalah korban dari fenomena bullying. ’Pelaku’ yang sebenarnya bisa dikatakan adalah mereka yang menutup mata terhadap fenomena ini atau menganggapnya normal dan membiarkannya terus-menerus terjadi. Mereka seringkali adalah orang-orang terdekat pelaku dan korban, yaitu teman sebaya, orangtua, dan guru
Dari seluruh rangkaian makalah diatas dapat disimpulkan bahwa bullying yang terjadi dalam dunia pendidikan sebetulnya dapat dicegah, dikurangi, atau bahkan dihilangkan jika seluruh komponen-komponen dalam pendidikan berperan aktif sesuai dengan tujuan dari pendidikan yang diantaranya  mengubah suatu pola sikap atau perilaku suatu individu kearah yang lebih baik sesuai dengan tujuan hidupnya masing-masing.
Hal itu dapat diwujudkan dengan berbagai cara yang dapat dilakukan oleh pendidik dan anak didik serta dari pemerintah. Seperti menanamkan pendidikan moral pada setiap individu dan berproses pendidikan sesuai dengan acuan teori / landasan pendidikan yang ada.  Juga menumbuhkan kesadaran kepada pendidik dan anak didik terhadap tugas dan tanggung jawabnya masing-masing bahwa dalam lembaga pendidikan semuanya harus terdidik sesuai landasan pendidikan agar sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Coba bayangkan jika di Negara kita Indonesia tercinta ini memiliki rasa persatuan dan persaudaraan satu sama lain tanpa adanya kekerasan khususnya dalam dunia pndidikan maka akan lahir generasi yang cerdas, berwibawa, dan terdidik tentunya untuk memajukan bangsa dan negaranya sendiri.


B.   Saran

Saran dari penulis tentang bullying yang terjadi dalam dunia pendidikan yaitu diawali dari pendidik yang harus menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik serta bersikap bijaksana dan wibawa sesuai landasan pendidikan agar tidak terjadi lagi kekerasan antara pendidik terhadap anak didiknya. Kemudian kesadaran orang tua dari anak didik agar menanamkan pendidikan moral atau cara bersikap baik terhadap gurunya (pendidik). Dan juga sistem pendidikan di Indonesia yang harus dibenahi agar dapat mengoptimalkan landasan dan komponen dalam pendidikan itu sendiri.
Semoga untuk selanjutnya tindak kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan dapat dikurangi atau dihilangkan agar tercapainya tujuan pendidikan di Negara Indonesia kita tercinta ini.












DAFTAR PUSTAKA

Meilanie, Sri Martini.2011. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Mata Kuliah Dasar keterampilan.

Yayasan Semau Jiwa Amini (SEJIWA). 2008. Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Jakarta: Grasindo.

Astuti, Ponny Retno. 2008. Meredam Bullying (3 Cr Efektif Menanggulangi). Jakarta: Grasindo.

http//Wikipedia Indonesia.com, Diakses tanggal 18 Juni 2011

Catshade. 2007. “Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 1)”. http://popsy.wordpress.com/2007/04/26/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-1/.  (18 Juni 2011)

Catshade. 2007. “Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2b): Pelaku Juga Adalah “Korban”. http://popsy.wordpress.com/2007/07/28/%E2%80%9Cbullying%E2%80%9D-dalam-dunia-pendidikan-bagian-2b-pelaku-juga-adalah %E2%80%9Ckorban%E2%80%9D/. (18 Juni 2011)





[1]  http//Wikipedia Indonesia, Pendidikan, Diakses tanggal 9 April 2011.
[2] Pernyataan Mendiknas Bambang Sudibyo dalam Seminar “Bullying: Masalah Tersembunyi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia” di Jakarta, 29 April 2006, dikutip dari harian Kompas. 1 Mei 2006
[3]  Langeveld 1971 , Sri Martini Meillanie,  Buku Pengantar Ilmu Pendidikan, Macam-macam alat pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar