Sabtu, 25 Juni 2011

Pengantar Ilmu Pendidikan ~ Pendidikan dalam Perspektif Sosial


PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF SOSIAL
Pendidikan sosial dengan ruang lingkup dan aspek kehiduoan sosial yang begitu luas cakupannya, menjadi landasan kuat penanaman dan pengembangan nilai ketuhanan yang menjadi kunci kebahagiaan kita manusia lahir batin.
Ini menjadi tanggung jawab terpenting bagi para pendidik dan orang tua dalam upaya mempersiapkan anak, bahwa merupakan hasil setiap pendidikan, baik yang berhubungan dengan pendidikan iman mauoun yang berkaitan dengan pendidikan moral dan psikologis.
Karena eksistensi pendidikan sosial merupakan fenomena tingkah laku dan watak yang dapat mendidik anak guna menunaikan segala kewajiban, sopan santun, kontrol sosial, keajegan intelektual, politik, dan interaksi yang baik dengan orang lain.
Apabila anak terdidik, terbentuk, dan berkiprah dipanggung kehidupan mereka akan dapat memberikan gambaran yang benar tentang manusia yang cakap, berakal dan bijak.
Oleh sebab itu guru hendaknya berusaha keras memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran ilmu sosial dengan cara yang benar, agar mereka dapat memberika andil dalam pembinaan masyarakat yang utama yang berlandaskan iman, moral, pendidikan sosial yang utama, dan nilai-nilai masyarakat yang tinggi.
Dengan perkembangnya ilmu pengetahuan akan memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan lingkungan masyarakat tertentu ini didasari benar bahwa pada perubahan masyarakat sosial itu banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Usaha manusia untuk melakukan perubahan dipengaruhi oleh perubahan sosial yang sedang dihadapi. Ditinjau dari sudut pandang sosiologis, pendidikan adalah penyesuaian diri yang tertinggi dari seorang manusia yang sadar telah berkembang secara jasmaniah terhadap lingkungan, intelektual, emosional, dan cita-cita sosialnya. Pandangan-pandangan etika sosial mempunyai pengaruh besar terhadap penyelenggaraan pendidikan untuk umum atau untuk “Public Education”. Seperti pengaruh terhadap pola administrasi pendidikan (sentralisasi atau desentralisasi), kesempatan pendidikan (pendidikan untuk semua atau pendidikan yang terbatas), organisasi pendidikan (pendidikan progresif atau pendidikan esensialis atau pendidikan parensialis).
Pendidikan sebagai fungsi sosial yaitu pendidikan merupakan suatu cara yang dilakukan masyarakat dalam membimbing anak yang belum matang, sesuai dengan bentuk serta susunan masyarakat itu sendiri. Jadi pendidikan itu memiliki atau mempunyai fungsi untuk meneruskan, menyelamatkan sumber dan cita-cita masyarakat. pengaruh sosial terhadap pendidikan adalah merupakan bentuk pendidikan yang bersamaan dalam kehidupan. pendidikan merupakan aspek kehidupan, bila dalam kehidupan terdapat bentuk dan sistem organisasi sosial seperti organisasi politik, ekonomi, kesehatan, keagamaan, dll, akan berusaha mempengaruhi dan mengembangkan isi dan tujuan organisasi kepada orang lain, maka hal ini merupakan wujud dan bentuk pendidikan yang memperhatikan pengaruh sosial yang terdapat dalam kehidupan bersama.
Sommers (1970), menyatakan bahwa saat ini Sosiology of Education memiliki cakupan keilmuan yang ideal dengan didasarkan atas konsep-konsep keilmuan sosiologi secara menyeluruh, dan tidak melupakan masukan yang signifikan dari ahli-ahli pendidikan. Pembahasan para ahli sosiologi ini diarahkan pada praktik-praktik sosiologis yang terjadi pada setting pendidikan, seperti menyangkut kesempatan memperoleh pendidikan, penghapusan perbedaan keikutsertaan dalam pendidikan, latar belakang sosial peserta didik, penetapan materi kurikulum, interaksi dalam kelompok disekolah, dan pengembangan karir guru. Apabila cakupan pembahasan sosiologi mencakup konsep teori yang berkaitan dengan struktur sosial (nilai, norma, kelompok sosial, pranata, dan stratifikasi sosial), proses sosial (termasuk mobilitas sosial), dan masalah sosial (termasuk perubahan sosial), maka ahli sosiologi dalam membahas pendidikan tidak terlepas dari penerapan konsep-konsep teori yang berkaitan dengan hal-hal tersebut dalam memahami penyelenggaraan pendidikan.

Proses pendidikan sebagai proses sosialisasi
Pada awalnya ahli sosiologi dan ahli psikologi sosial menekankan daerah kajiannya pada pengembangan kepribadian. Beberapa ahli pendidikan sosiologi memandang bahwa keseluruhan proses  sosialisasi anak sebagai wilayah kajian Educational Sociology. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman sosial yang terdapat pada diri seseorang dan dipengaruhi oleh kelompok merupakan bagian yang dipertimbangkan dalam  perkembangan Educational Sociology.

Peran pendidikan ditengah masyarakat
Beberapa pengembangan Educational Sociology akhir-akhir ini memiliki perbedaan dari pandangan ahli-ahli terdahulu dalam hal yang berkaitan dengan analisis peran pendidikan pada kelompok  dan masyarakat pada umumnya. Pada buku Community Backgrounds of Education, Cook telah memberikan penekanan pembahasan pada fungsi  sosial diantara sekolah dan aspek-aspek lain pada kehidupan masyarakat pedesaan  dalam lingkungan yang dimilikinya serta kaitannya dengan pendidikan tinggi dan dasar yang ada disekitarnya. Terdapat sedikit perbedaan tetapi diklasifikasikan pada kategori umum yang sama bahwa analisis fungsi sekolah pada struktur masyarakat banyak ditandai oleh perolehan pendidikan yang dimiliki masyarakat dengan rujukan khusus pada fungsi pendidikan. Alasannya adalah bahwa hal ini mempunyai kesamaan pemahaman dengan ungkapan pada kategori awal dari Educational Sociology yang menempatkan usaha penerapan konsep-konsep secara sosiologis dalam memahami pendidikan pada masyarakat.

Pola interaksi sosial dalam sekolah dan kaitan antara sekolah dengan masyarakat
Hal yang sangat erat berkaitan dengan pembahasan di atas serta memiliki kesamaan dengan perkembangan akhir-akhir ini adalah menyangkut analisis pola interaksi sosial dan peran masyarakat didalam sekolah serta hubungan kepribadian dalam masyarakat sekolah serta hubungannya dengan kelompok diluar sekolah. Waller telah mencoba menganalisis peran guru-guru dalam kaitannya dengan siswa dan orang tua siswa. Studi Greenhoe tentang kontak masyarakat dan partisipasi pada negara dengan sampel guru-guru. Hasilnya menunjukkan taraf signifikan yang cukup. Dalam kajian yang sama telah dianalisis peran sosialnya. Kajian mengenai struktur kelompok, kepemimpinan, dan penolakan telah memberikan sumbangan terhadap pengembangan sosiologi dalam membahas kelompok sosial disekolah. Kontribusi utama dalam kajian ini telah dilakukan Cook dan Smucker. Dalam hal ini sangat akurat dalam memasukkan pendekatan yang telah digunakan diatas sebagai bagian pembahasan pada Educational Sociology, dengan memiliki keragaman kajian sebagaimana telah dibahas.

Di kota fasilitas-fasilitas terasa selalu serba kurang meskipun keadaannya lebih daripada di desa. Minat menyekolah anak besar sekali dan hampir setiap awal tahun bagi keluarga kota yang punya anak cukup sibuk. Syarat-syarat sedapat mungkin dipenuhi orang tua, agar anak-anak mereka dapat bersekolah yang diinginkan. Kenyataan semacam ini sedikit berlainan bila didesa.

Minat Bersekolah di Pedesaan
Di pedesaan minat orang tua menyekolahkan anak tidak sebesar di kota. Rangsangan bersekolah berupa fasilitas bangunan “belum penuh” mendapat pemanfaatannya.
Jumlah anak-anak yang terdaftar terlihat memang banyak. Tetapi bila diteliti, jumlah sebanyak itu barulah potensial saja. Anak-anak tidak banyak terikat ketentuan disekolah tetapi lebih banyak pada situasi lingkungannya.
Suatu gambaran umum dapat dikatakan bahwa bila tiba masa panen, sekolah pasti libur karena banyak anak-anak turun kesawah ikut panen. Bila dilihat lebih jauh peranan orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka dapat dikatakan tidak banyak menyokong kepada anak-anaknya agar berhasil disekolah. Daftar kemajuan sianak yang seharusnya diperlihatkan kepada orang tuanya ternyata lebih banyak hanyalah diketahui si anak itu sendiri saja.
Hubungan antara orang tua dan guru sebagai dua belah pihak pendidikan dan pengajar dirumah dan di sekolah tampaknya tidak tercapai. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan orang tua menentukan ada tidaknya perhatian terhadap pendidikan anaknya.
SPP di Sekolah Dasar Desa
Meskipun besarnya fasilitas telah diberikan pemerintah pada masa lalu (Pelita I) namun masih harus lebih besar lagi tambahan yang dikehendaki termasuk keringanan SPP.
SPP di taraf desa memang menghendaki pemikiran tersendiri mengingat antara lain minat belajar yang dasarnya sudah kendor.
Pemikiran kearah penyempurnaan SPP tersebut disesuaikan menurut kondisi daerah telah dipikirkan pelaksanaannya tahub ajarab mendatang ini, oleh Departemen P dan K. paling agar tidak dirasakan sebagai beban tambahan orang tua murid.
Mata Pelajaran yang Sesuai Lingkungan Desa
Tampak masih belum memadai untuk menimbulkan minat belajar dengan hanya memperhatikan SPP ringan dan syarat fasilitas cukup. Andi Hakim Nasution pernah menuliskan tentang kasus daerah Aceh bahwa guna pembangunan masih banyak sekali belum terealisasikan ini pelajaran sesuai dengan lingkungan murid tersebut.
Dengan demikian kenyataan ini terpengaruh pada manfaat langsung yang diharapkan dari pengajaran itu berkurang karena tidak dapat menangkap aspek kehidupan desa ditempat sekolah itu sendiri berada. Murid-murid tidak diajarkan “berdialog” mencitai lingkungan sekitarnya. Tidak mengherankan murid putus sekolah  tidak dapat memanfaatkan pengetahuannya yang didapat disekolah tersebut didesanya sendiri





Penyaluran
Penyaluran (gatekeeping) atau menentukan pekerjaan yang tepat bagi tiap orang merupakan suatu fungsi lain dari pendidikan. Satu jenis penyaluran adalah pemberian ijasah (credentialing) menggunakan ijazah dan gelar untuk menentukan calon memenuhi syarat untuk menjalani suatu pekerjaan tertentu yang memberikan kesempatan bagi sebagian orang lain. Penyaluran sering tercapai melalui penjurusan (tracking), pemilihan siswa ke dalam progam pendidikan yang berbeda, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Beberapa sekolah menengah atas di  Ameika Serikat menjuruskan para siswa ke dalam salah satu diantara 3 jalur ini : umum (general), persiapan kuliah (college prep), dan kehormatan (honors). Setelah menjalani sekolah menengah atas, para siswa di jalur terendah cenderung bekerja atau mengambil kursus kejuruan. Mereka yang berada di jalur tertinggi biasanya masuk perguruan tinggi bergengsi. Mereka yang berada diantaranya biasanya masuk perguruan tinggi local. Danpak nya akan terasa seumur hidup : mempengaruhi kesempatan kerja, penghasilan, dan gaya hidup. Meskipun sekolah telah meninggalkan penjurusan formal, masih terdapat system informal yang tetap berjalan dan emiliki danpak yang serupa (Lucas 1999)
Penyaluran memilah-milah orang atas dasar kinerja, seperti yang dinyatakan oleh fungsionalis Talcott Parsons (1940), serta Kingsley Davis dan Wilbert Moore (1945). Mereka melopori suatu pandangan yang dikenal sebagai penempatan sosial (sosial placement), dengan berpendapat bahwa beberapa pekerjaan tidak membutuhkan banyak keterampilan dan dapat dilakukan, bahkan oleh orang yang terlalu cerdas. Beberapa pekerjaan lain, sebaliknya menuntut kecrdasan tinggi dan pendidikan tinggi. Sebagai contoh nya dokter.
Pendidikan dalam Perspektif sosial (Konflik) : mengabadikan ketidaksetaraan sosial
Mengenai pendidikan dalam perspektif sosial disini kami akan membahas tentang konflik yang ada dalam pandangan sosial dengan tema mengabadikan ketidaksetaraan sosial.
Konflik : Mempelajari bagaimana pendidikan membantu kaum elite untuk mempertahankan dominasi mereka. Mereka menekankan bahwa -pendidikan mengabadikan kesetaraan sosial – bahwa pendidikan membantu dipertahankan nya pembagian sosial dalam masyarakat dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal kelas sosial misalnya kita melihat kejadian sebagai berikut : terlepas dari kemampuan yang mereka miliki, anak-anak yang lebih kaya cenderung mengikuti jalur persiapan kuliah dan orang miskin mengambil jalur kejuruan. Keduanya mewarisi kesempatan hidup yang telah ditetapkan sebelum mereka lahir. Sebagai hasil nya, alih-alih nilai akademis, latar belakang keluarga lebih dapat meramalkan kandidat yang akan masuk ke perguruan tinggi. Prinsipnya yang berlaku adalah : jika anda merangking keluarga dari yang paling miskin sampai yang paling kaya, seiring dengan meningkatnya penghasilan keluarga, peluang anak-anak mereka akan masuk ke perguruan tinggi pun akan meningkat (Bowles 1977; Manski 1992-1993)
Jika kita mempertimbangkan pendidikan dan ras-etnis, kita juga dapat melihat bagaimana pendidikan membantu mempertahankan stuktur ras-etnis generasi berikut. lihatlah ke gambar 13.2 anda dapat melihat bahwa, apabila diandingkan dengan orang kulit putih. Orang anfo-amerika dan amerika latin kurang berpeluang menyelesaikan sekolah menengah atas dan kurang berpeluang masuk ke perguruan tinggi. Perbedaan yang paling besar terjadi pada orang Amerika Latin. Dengan sendirinya mereka yang tidak memiliki gelar perguruan tinggi lebih berpeluang menjalani pekerjaan yang berpenghasilan rendah

Marilah kita melihat tigs cara lain saat pendidikan membantu mereproduksi struktur sosial.
1.      Kurikulum terselubung
Istilah kurikulum terselubung (hidden curriculum) merujuk pada peraturan tak tertulis tentang perilaku dan sikap, seperti ketaatan pada pihak yang berwenang dan norma arus utama, yang diajarkan sekolah selain kurikulum formal. Para teoretikus konflik melihat bahwa kurikulum terselubung ini membantu mempertahankan adanya ketidaksetaraan sosial.
Untuk dapat lebih memahami masalah ini, bayangkan tentang cara bahasa inggris diajarkan. Sekolah yang terletak di daerah kelas menengah dimana para guru mengetahui arah yang akan dituju para siswa nya, para guru menekankan kepada para siswa perihal bahasa inggris yang “pantas” dan perilaku yang “baik”. Sebaliknya, para guru di sekolah daerah kumuh yang juga mengetahui arah yang akan siswa mereka tuju, mengizinkan bahasa etnis dan bahasa jalanan dalam kelas. Masing-masing sekolah tersebut membantu mempersiapkan reproduksi status sosial. Artinya, masing-masing sekolah tersebut membantu mempersiapkan siswa untuk bekerja dalam posisi yang serupa dengan posisi orang tua mereka. Kelas sosial beberapa orang anak menakdirkan mereka untuk masuk ke dalam posisi yang lebih tinggi. Oleh karena itu mereka memerlukan tutur kata dan gaya perilaku yang “halus”. Nasib sosial orang-orang yang tidak memiliki kesempatan yang lebih baik ialah mendapatkan pekerjaan berstatus rendah dengan pengawasan yang ketat. Untuk itu mereka hanya cukup menaati peraturan (Bowles dan Gintis 1976; Olneck dan Bills 1980). Mengajarkan tutur kata dan gaya perilaku yang “halus” kepada para siswa ini merupakan suatu usaha yang sia-sia.
Dengan demikian, cara sekolah mengajarkan tutur kata dan gaya perilaku merupakan hal yang signifikan. Ini merupakan cara pendidikan mempersiapkan anak-anak untuk posisi yang serupa dengan posisi orang tua mereka. Dengan kata lain, bahkan pengajaran bahasa Inggris dan sopan santun membantu keutuhan kelas sosial antar generasi.
2.      Diskriminasi Melalui IQ
Bahkan tes kecerdasan pun berperan dalam menjaga keutuhan system kelas. Sebagai contoh, bagaimana anda akan menjawab pertanyaan ini ?
Sebuah simfoni bagi seseorang komponis adalah seperti sebuah buku bagi ____
______ kertas______pematung______musisi_______penulis_______laki-laki
Anda mungkin tidak mengalami kesulitan untuk memilih “penulis” sebagai jawaban anda. Bukankah tiap orang cerdas akan berbuat demikian ??
Sebenarnya pertanyaan ini mengangkat suatu isu utama dalam tes intelegensi. Tidak semua orang cerdas mengetahui jawabanya. Pertanyaan ini mengandung bias budaya. Anak-anak dengan latar belakang tertentu lebih mengenali konsep simfoni, komponis, dan pematung disbanding anak-anak lain. Sebagai akibatnya, tes ini bersifat berat sebelah dan menguntungkan mereka ang berasal dari latar belakang yang sesuai.
Mungkin diajukannya suatu pertanyaan lain akan menjadikan bias ini lebih jelas. Bagaimana anda akan menjawab pertanyaan ini ??
Jika anda melempar dua dadu dan keluar total angka tujuh. Angka apa yang menghadap ke bawah ??
___tujuh___snake eye___box car___little joe____sebelas
Pertsnyaan ini  yang diusulkan Adrian Dove (tahun tidak diketahui), seorang pekerja di watts, menguntungkan mereka yang berasal dari kelas lebih bawah. Tentunya sudah jelas bahwa bias budaya khusus ini menghasilkan tes berat sebelah sehingga anak-anak dari latar belakang sosial tertentu akan berprestasi lebih baik dari pada anak-anak lain.
Sama halnya yang terjadi dengan tes IQ, yang menggunakan kata-kata seperti komponis dan simfoni. Seorang anak yang berasal dari kelas yang lebih rendah mungkin pernah mendengar tentang , rap, rock, hip-hop atau jazz, tetapi belum tentu ia pernah mendengar tentang simfoni. Dengan kata lain, tes IQ tidak hanya mengukur kecerdasan, tetapi juga pengetahuan yang dimiliki. Apapun yang kita katakan, bias budaya yang melekat pada tes IQ jelas tidak menguntungkan mereka yang berasal dari kelas bawah. Danpaknya adalah bahwa kaum minoritas dan kaum miskin yang memperoleh skor lebih rendah dalam tes ini mendapatkan mata  ajar yang tuntutan nya lebih sedikit. Ini menakdirkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan berpenghasilan lebih rendah ketika mereka dewasa.
3.      Pembiayaan yang tidak setara
Para teoerikus konflik menekankan bahwa semua Negara bagian di amerika serikat cenderung tidak mendukung orang miskin. Karena sebagian besar dana sekolah public berasal dari oajak kekayaan local, komunitas yang lebih kaya (dalam arti memiliki tingkat kekayaan yang lebih tinggi) memiliki lebih banyak dana yang dapat dimanfaatkan untuk anak-anak mereka. Sebaliknya, komunitas yang lebih miskin memiliki lebih sedikit dana yang dapat digunakan untuk anak-anak mereka. Sebagai konsekuensinya, komunitas yang lebih kaya dapat menawarkan gaji lebih tinggi dan memilih guru yang lebih baik. Mereka pun mampu membeli buku sekolah, computer, dan peranti lunak terbaru, serta mengajarkan bahasa asing, music, dan ilmu-ilmu budaya.
Singkatnya karena sekolah amerika serikat sangat mencerminkan system kelas sosial amerika serikat, anak-anak yang berasal dari golongan atas dapat lulus dari sekolah dasar dengan bekal lebih baik untuk meraih kesuksesan di sekolah menengah atas. Selanjutnya, mereka keluar dari sekolah menengah atas dengan bekal yang lebih baik untuk meraih kesuksesan di perguruann tinggi. Dalam persaingan ini, anak-anak orang miskin menjadi tersisihkan, laksan alomba seoang pelari berkaki satu melawan juara atletik olimpiade.
Secara singkat, karena pintu kesempatan pendidikan terbuka lebar bagi beberapa orang, padahal pintu tersebut harus dibongkar paksa oleh orang lain,


DAFTAR PUSTAKA

Henslin, James M. 2006. Sosiologi. Jakarta: Erlangga
Sayogyo, Pudjiwati dan Sajogyo. 1990. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: UGM
Ali, Muhammad. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar